Kamis, 15 Desember 2011

Tanpa Bicara

Tersimpan dalam sini
Ada bulan sabit mesra
Cinta bukan kata-kata
Adalah lahir dari sini

Mungkin angin tak berbelah
Maka hati tak memecah
Ketika perasaan mekar
Hari jadi seperti mawar

Bungaku dibulan sabit
Seperti Cempaka kuncup separuh
Sedang sebagian hanya lugu
Yang terbiasa setelah terakit

Aku seperti saying
Maka sayangi seperti aku
Yang matanya senyummu
Lalu senyumnya adalah cinta

Rabu, 23 November 2011

Curahan : Wed, 23 Nov 11 - 00.00 am

Sutra malam sutra lembayung
Langit kembara dibungkus mendung
Nyanyi pemuda di malam gerimis
Basah nyinyirkan pusaka lelah seharian
Hujan merayap masuk lewat aransemen senyap yang disiplin
Dupa hati dinyalakan . . .

Ada cerita seperti biasanya
Tentang sepi panjang
Makna dunia lajang
(Guntur bernyanyi di langit)
Fenomena tetaplah sama
Tentang penelusuran romansa
Mencari kehdan saja tak ada usainya
Aku sudah terlalu tua untuk bermain – main dengan syahwat
Sebab dunia telah menuntutku untuk jauh berpikir akan masa depan

Matahari sore tadi cukup menyinggung perasaan
Apakah selamanya aku harus tetap menadi nestapa ?
Ah . . itu hanya pemikiran manusia labil saja
Padahal Tuhan sudah lebih menyayangiku
Apa lagi yang kurang ?
Kendati aku dilahirkan sebagai pemuda sederhana
Haruslah kuhargai pemberian Tuhan dengan zikir sinambung

Kurasakan puisiku tengah menyusun nyawanya
Dan hendak mencari cinta – cinta siapa saja yang hendak menerimaku apa adanya
Ada kalanya manusia bodoh sepertiku harus bermimpi bidadari di syurga
Ada masanya pula kau mesti mendambakan perempuan jalang di jalanan
Semuanya sekedar tokoh pewayangan maya saja . . . 

Sastra Ungu

(In memoriam)

Dalam Ungu ada kebebasan
Ketika merpati belajar
Romansa merubahnya sebagai elang
Dalam sedalamnya gubahan jiwa
Tabiat gradari adalah tauladan
Yang hidup disisi baiknya
Lakon pecinta penuh selaras
Besi pasak dan bunga kapas
Cerita tetap mengiang
Sepinya laksana danau
Ramainya seperti engkau . .

Curahan : Wed, 23 Nov 11 - 23.39 pm

Malam yang cukup tenang
Hanya ada kata yang diam
Sukmaku kembali ditegur biru
Kharismatiknya menggambarkan kesombongan
Meski ada setitik senyum terselip di senyawa bibir mungilnya
Aku tetap . . haruslah diam

Gaun coklat muda
Rambut terkumpul rata sebahu
Sedikit membuat luluh
Hanya aku harus diam
Tak ada artinya berharap
“Engkau bukan siapa – siapa lagi, El !”

Suka duka sang penyair
Sekedar tertumpah di harianku
Tidak manfaat mengenang
Tak mujarab mengarang
Aku, diam !
Biru bukan lagi malaikat
Sayapnya tak seputih dulu
Matanya tak sekarip lampau
Aku hanya boleh diam

Matahari Desember sekedar terang sesaat
Biru terjun pada dimensi edukasi
Maka, semakin besarlah tuntutannya
Sedang seniman masai sepi teruslah berjarak dengannya
Sebab, ia buka perupa atau perenung

“Mampuslah kau, el !”
“Mampus . . ? Hh, ia pikir aku ini pemuda rapuh ?”

Matahari tetaplah jaya pada siangnya
Rembulan wajiblah mempesona saat malamnya
Semua ada kalanya
Semua kalanya ada
Maka ketika aku mati
Biru tetap hidup
Hingga bila aku bangkit
Barangkali sudah waktunya biru wafat
Segalanya sementara dan hal sementara di dunia adalah segalanya

Tidak selamanya aku harus mati di kubangan
Lantaran kehidupan laksana meja pertaruhan
Maka kupertaruhkan separuh waktu demi menuai masanya
Pada kalanya

“Dindaku, Jingga?!
Dengarkah engkau?
Ternyata engkau saja yang terbaik . . .”

Tadinya terpikir
Biru dan Ungu adalah mahkota
Tapi itu fana
Karena Biru terhasut roda mayapada
Lantas Ungu terpaksa oleh peradaban
Sedang engkau . . Jingga
Namamu tetap ramah bermain di taman jiwaku
Engkau kenangan baik

Cinta pertama tak bisa mengalahkan Biru yang dulu
Tapi Biru sekarang tak sebanding dengan cinta pertamaku
Tidak berarti sedikitpun
Yang ada, Jingga membunuh setiap malam sepiku
Jingga menjadi malam kekal

Nirwana hitam sepikan imaji
Malam ini tidak lagi berpelangi
Kecuali Jingga saja
(1.15 am)

Curahan : Wed, 23 Nov 11 - 23.04 pm

Malam ini senyap
Tapi menikmati hidup sepimu justru lebih bermakna”
Hatiku menyapa”

Terang saja aku damai saat sepi
Sebab dalam sepi ada kekasih sejati
Yang pesonanya hidupi ruang halusinasiku

Lembaran diary adalah sahabat
Bersamanya kumengadukan tanya dan jawab
Pada gending malam buta
Purnama separuh mengangkat niatku untuk tidak lagi masai

Atas nama sang pemilik malam
Atas nama hati yang penuh sesak leh sepian
Kusuguhkan puisi diam berpuja cinta
Mataku sayu tercebur pada lembaran putih
Dengan remang cahaya mengejakan kata demi kata

Dinginnya malam sebagai obat lelah seharian
Aku tak berniat untuk menebar pesona
Sebagaimana malam biasanya
Sebab pekerjaan itu membosankan
Lagipula sudah tidak ada lagi wanita terbaik di kampung halamanku ini
Jadi buat apa bersusah ria menebar teraju hampa
SUDAHLAH !

Senin, 21 November 2011

Sastra Jingga

(In memoriam)

Sewindu kajian tertinggal
Cakrawala tetap manis
Kumpulan cerita terindah
Selayaknya diabadikan
Jingga seperti siluman
Menyusup di aliran darah
Tak kurang tak  bertambah
Jingga semanis madu surga
Awal meletakkan cinta
Adalah awal memuja jingga

Curahan : Thu, 17 Feb 11 - 03.25 am

Kenangan adalah nyawa
Berwujud gadis kejam
Merobek – robek jantung
Mencekik tak ampun

Matanya merah dendam
Luap bagai pawaka
Tak berkepribadian
Laksana tanya – tanya

Nafasnya meliurkan sesal
Rasuki suka – duka lelah
Tidak guna sudah
Kecuali mati tertinggal

Kenangan adalah awan
Yang berkepribadian seadanya
Adalah angin resah
Yang hidup sewajarnya . .

Aku dan kenangan
Adalah kekasih . . .

Curahan Thu, 17 Feb 11 - 00.05 am

Jakarta berpuisi
Langit kamar menangis
Berisi ratapan hampa setengah mati
Realisasi yang aku punya sekedar menghidupi hari – hari biasanya
Selanjutnya tetap terombang – ambing.

Sekedar diam di kabin hayal
Nirwana saja yang setia bawakan mawar
Tidak selain itu
Alenia romansa harus vakum sejenak dicekal kenyataan yang tidak selaras
Tetang seorang aku yang pernah mencintai dan dicintai
Kini harus luluh terhempas pawana mawar di mayapada baru
Maka terkaparlah !

Atas nama kesejatian cinta
Aku haruslah sanggup untuk mempertagar diri
Lantaran kini aku tak lagi miliki cinta seorang pun
Sehingga kerinduan ini hanya layak bagi kumpulan sejarah yang kupunya
Bukan untuk setitik warna.

Sejatiku, biruku
Tidak lagi kini auranya mampu menggugah kerinduan
Kecuali mati berkalang sesal yang baka
Letih kuimlakan sendiri tanpa kata – kata
Sebab biru yang dulunya harapan kini haruslah menjadi kenangan
Lalu harus kemana lagi langkah menuju

Tak mengerti
Sampai dimana harus memulai dan berhenti
Kecuali berharap agar sunyi ini terobati